MAKALAH KOMUNIKASI KEPERAWATAN ;
KOMUNIKASI
PADA LANSIA
Dosen Pembimbing: Tri Yuni
Rahmanto, S.Kep.Ns.,M.PH
Disusun oleh :
Mohamad Hikam Khoerul
Uma (2515029)
YAYASAN
KEPERAWATAN YOGYAKARTA
AKADEMI
KEPERAWATAN “YKY”
YOGYAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “KOMUNIKASI PADA LANSIA” ini
tepat pada waktunya.
Adapun tujuan
dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dosen pada mata
kuliah Komunikasi Keperawatan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang cara berkomunikasi pada lansia bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.
Saya mengucapkan
terima kasih kepada bapak/ibu dosen, selaku dosen mata kuliah Komunikasi
keperawatan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan
dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari,
makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.
DAFTAR ISI
Halaman judul............................................................................................................ i
Kata pengantar........................................................................................................... ii
Daftar isi..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1
A. Latar belakang .................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ............................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan.................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 3
A. Pengertian komunikasi dan
Pengertian lansia...................................................... 3
B. Komunikasi pada lansia....................................................................................... 4
C. Kendala-kendala dan
hambatan dalam berkomunikasi pada lansia..................... 6
D. Teknik pendekatan dalam
Perawatan lansia pada konteks komunikasi
dan
pada reaksi penolakan................................................................................... 7
E. Keterampilan Komunikasi
Terapeutik Pada Lansia............................................ 10
F.
Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Lansia...................................... 11
BAB III PENUTUP................................................................................................... 13
A. Kesimpulan.......................................................................................................... 13
B. Saran.................................................................................................................... 13
Daftar pustaka............................................................................................................ 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Komunikasi adalah elemen
dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan,
mempertahankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi
dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi
adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang
melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi
dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya.. Untuk memperbaiki
interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan
mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti
dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa
atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran. Instruksi
yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering
sangat membantu. (Bruner & Suddart, 2001 : 188)
Komunikasi adalah proses
interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan non verbal dari informasi dan
ide. Kominikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan
emosi dimana individu menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ). Komunikasi
pada lansia membutuhkan peratian khusus. Perawat harus waspada terhadap
perubahan fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang memperngaruhi pola
komunikasi. Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat
mengakibatkan kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga bagian dalam
dan telinga mengalangi proses pendengaran pada lansia sehingga tidak toleran
teradap suara. Berdasarkan hal – hal tersebut kami menulis makalah ini yang
berjudul “ komunikasi pada lansia.
B.
Rumusan Masalah
1. Pengertian komunikasi dan
Pengertian lansia ?
2. Komunikasi pada lansia ?
3. Kendala-kendala dan
hambatan dalam berkomunikasi pada lansia ?
4. Teknik pendekatan dalam
Perawatan lansia pada konteks komunikasi dan pada reaksi penolakan ?
5. Keterampilan Komunikasi
Terapeutik Pada Lansia ?
6. Prinsip-Prinsip Etik
Pelayanan Kesehatan Pada Lansia ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Pengertian komunikasi dan Pengertian lansia.
2.
Komunikasi pada lansia.
3.
Kendala-kendala dan hambatan dalam berkomunikasi pada lansia.
4.
Teknik pendekatan dalam Perawatan lansia pada konteks
komunikasi dan pada reaksi penolakan.
5.
Keterampilan Komunikasi Terapeutik Pada Lansia.
6.
Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Lansia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian komunikasi dan
lansia
Komunikasi merupakan
suatau hubungan atau kegiatankegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan
atau dapat diartikan sebaagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat
diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok.
(Widjaja, 1986 : 13) Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan
kontak dengan orang lain. (Potter & Perry, 2005 : 301) komunikasi yang
biasa dilakukan pada lansia bukan hanya sebatas tukar-menukar perilaku,
perasaan, pikiran dan pengalaman dan hubungan intim yang terapeutik. Lansia adalah periode dimana organisme telah
mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan
kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia
kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan
kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses
menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut
usia.Kelompok lanjut usia ( LANSIA ) adalah kelompok penduduk yang berusia 60
tahun ke atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999;8). Pada lanjut usia akan
terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi
(Constantinides, 1994). Karena itu di dalam tubuh akan menumpuk makin banyak
distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit degeneratif yang menyebabkan
lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal (Darmojo dan Martono,
1999;4). Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi
tiga kelompok yakni :
1. Kelompok lansia dini (55 –
64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia.
2. Kelompok lansia (65 tahun
ke atas).
3. Kelompok lansia resiko
tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.
B.
Komunikasi pada lansia
Dalam komunikasi dengan
lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi, (lingkungan dalam situasi
individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi yang tepat. disamping itu
juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan waktu yang tepat.
a)
Ketrampilan komunikasi
Listening/Pendengaran yang
baik yaitu :
a.
Mendengarkan dengan perhatian telinga kita.
b.
Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang
jernih.
c.
Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih kita.
b)
Tekhnik komunikasi dengan lansia
1.
Tekhnik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
Kecepatan dan tekanan
suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik pembicaraan dan kebutuhan
lansia,berbicara dengan lansia yang dimensia dengan pelan.tetapi berbicara
dengan lansia demensia yang kurang mendengar dengan lebih keras hati-hati
karena tekanan suara yang tidak tepat akan merubah arti pembicaraan,pertanyaan yang
tepat kurang pertanyaan yang lansia menjawab ya atau tidak.
Berikan kesempatan orang
lan untuk berbicara hindari untuk mendominasi ,pembicara sebaiknya mendorontg
lansia untuk berperan aktif ,Merubah topik pembicaaraan dengan jitu menggunakan
objek sekitar untuk topik pembicaraan bila lansia tidak interest lagi Contoh :
siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu yang bagus ini?
Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit gunakan makan satu buah setelah makan dari pada menggunakan makanan yang berserat. Gunakan kalimat yang simple dan pendek satu pesan untuk satu kalimat.
2.
Teknik nonverbal komunikasi
a)
Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya
tidak acuh tak acuh, perbedaan.
b)
Kontak mata : jaga tetap kontak mata.
c)
Expresi wajah : mereflexsikan peraaan yang sebenarnya.
d)
Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat,
meletakan kursi dengan tepat.
e)
Sentuhan : memegang tangan, menjbat tangan.
3.
Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia.
1)
Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat
tangan.
2)
Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapaka
pesan-pesan verbal dan merupak metode
primer yang non verbal.
3)
Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi
keperawatan yang akan diberikan.
4)
Muali pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
5)
Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang
efektif.
6)
Secara periodic mengklarifikasi pesan.
7)
Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan
mendorong untuk berfokus pada informasi.
8)
Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
9)
Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang
mengancam dan akan mengakiri interview.
10) Minta ijin bila ingin
bertanya secara formal.
c)
Lingkungan wawancara.
1.
Posisi duduk berhadapan
2.
Jaga privasi.
3.
Penerangan yang cukup dan cegah latar belakang yang silam
4.
Kurangi keramaian dan berisik
5.
Komunikasi dengan lansia kita mencoba untuk mengerti dan
menjaga kita mengekspresikan diri kita sendiri efek dari kmunikasi adalah
pengaruh timbal balik seperti cermin.
C.
Kendala-kendala dan
hambatan dalam berkomunikasi dengan lansia
1. Gangguan neurology serring menyebabkan gangguan bicara dan berkomunikasi
dapat juga karena pengobatan medis, mulut yang kering dan lain-lain.
2. Penurunan daya pikir sering menyebabkan gangguan dalam
mendengarkan, mengingat dan respon pada pertanyaan seseorang.
3. Perawat sering memanggil dengan “nenek”, “sayang”, dan lain-lain.
Hal tersebut membuat tersinggung harga dirinya dianjurkan memanggil nama
panggilannya.
4.
Dianjurkan menegur dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
5.
Perbedaan budaya hambatan komunikasi, dan sulit menjalin
hubungan saling percaya.
6.
Gangguan sensoris dalam pendengarannya
7.
Gangguan penglihatan sehingga sulit menginterprestasikan
pesan-pesan non-verbal.
8. “Overload” dari sensoris : terlalu banyak informasi dalam
satu waktu atau banyak orang berkomunikasi dalam yang sama sehingga kognitif
berkurang.
9. Gangguan fisik yang menyebabkan sulit berfokus dalam
pembicaraan misalnya focus pada rasa sakit, haus, lapar, capai, kandung kemih
penuh, udara yang tidak enak, dan lain-lain.
10. Hambatan pada pribadi : penurunan sensoris, ketidaknyamanan
fisik, efek pengobatan dan kondisi patologi, gangguan fungsi psikososial,
karena depresi atau dimensia, gangguan kontak dengan realita.
11. Hambatan dalam
suasana/lingkungan tempat wawancara : ribut/berisik, terlalu banyak informasi
dalam waktu yang sama, terlalu banyak orang yang ikut bicara, peerbedaan
budaya, perbedaan, bahasa, prejudice, dan strereotipes
D. Teknik pendekatan dalam Perawatan lansia pada konteks
komunikasi dan pada reaksi penolakan.
1.
Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada konteks
komunikasi
a.
Pendekatan fisik
Mencari kesehatan tentang
kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang di alami, perubahan fisik organ
tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan di kembangkan serta
penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
b.
Pendekatan psikologis
Pendekatan ini bersifat
abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu
yang lebih lama. Untuk melaksanakan pendekatan ini, perawat sebagai konselor,
advokat terhadap segala sesuatu yang asing atau sebagai pena,pung masalah pribadi
dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
c.
Pendekatan sosial
Pendekatan ini di
laksanakan meningkatkan keterampilan
berinteraksi dengan lingkungan. Mengadakan diskusi tukar fikiran bercerita
serta bermain merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat
berinteraksi dengan sesama lansia maupun dengan petugas kesehatan,
d.
Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa
memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang di
anutnyaterutama pada saat klien sakit atau mendekati kematian.
2. Teknik pendekatan dalam
perawatan lansia pada reaksi penolakan
Penolakan adalah ungkapan
ketidakmampuan sesorang untuk mengakui secara sadar terhadap pikiran,
keiinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadian – kejadian nyata sesuatu yang
merupakan reaksi ketidaksiapan lansia menerima perubahan yang terjadi pada
dirinya.
Ada beberapa langkah yang
bisa di laksanakan untuk menghadapi klien lansia dengan penolakan antara lain :
1.
Penolakan segera reaksi penolakan klien.
Yaitu membiarkan lansia
bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu. Langkah – langkah yang dapat di
lakukan sebagai berikut :
a. Identifikasi pikiran yang paling
membahayakan dengan cara observasi klien bila sedang mengalami puncak
reaksinya.
b. Ungkapakan kenyataan yang
di alami klien secara perlahan di mulai dari kenyataan yang merisaukan.
c. Jangan menyongkong penolakan klien, akan tetapi berikan perawatan yang cocok bagi klien dan bicarakan sesering mungkin jangan sampai menolak.
2.
Orientasikan klien lansia pada pelaksanaan perawatan sendiri.
Langkah ini bertujuan
mempermudah proses penerimaan klien terhadap perawatan yang akan di lakukan
serta upaya untuk memandikan klien, antara lain :
a. Libatkan klien dalam perawatan dirinya, misalnya dalam
perencanaan waktu, tempat dan macam, perawatan.
b. Puji klien lansia karena usahanya untuk merawat dirinya atau
mulai mengenal kenyataan.
c. Membantu klien lansia
untuk mengungkapkan keresahaan atau perasaan sedihnya dengan mempergunakan
pertanyaan terbuka, mendengarkan dan menluangkan waktu bersamanya.
3.
Libatkan keluarga atau pihak terdekat dengan tepat.
Langkah ini bertujuan
untuk membantu perawat atau petugas kesehatan memperolah sumber informasi atau
data klien dan mengefektifkan rencana atau tindakan dapat terealisasi dengan
baik dan cepat. Upaya ini dapat di laksanakan dengan cara – cara sebagai
berikut :
a.
Melibatkan keluarga atau pihak terkait dalam membantu klien
lansia menentukan perasaannya.
b.
Meliangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang
bersangkutan tentang apa yang sedang terjadi pada klien lansia serta hal – hal
yang dapat di lakukan dalam rangka membantu.
c.
Hendaknya pihak – pihak lain memuji usaha klien lansia untuk
menerima kenyataan.
d.
Menyadarkan pihak lain akan pentingnya hukuman (bukan hukuman
fisik) apabila klien lansia mempergunakan penolakan atau denial.
E. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Pada Lansia.
a.
Keterampilan Komunikasi Terapeutik, dapat meliputi :
1. Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan
menjelaskan tujuan dan lama wawancara
2. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab,
berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.
3. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan
latar belakang sosiokulturalnya.
4. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia
kesulitan dalam berfikir abstrak
5. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan
memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan
menyentuh pasien.
6. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian
pasien dan distress yang ada
7.
Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan
dari wawancara pengkajian.
8. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan
dengan cermat dan tetap mengobservasi.
9.
Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru
dan asing bagi pasien.
10.
Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat
senyaman mungkin.
11.
Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia
yang sensitif terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan
penglihatan.
12.
Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada
keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.
13.
Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.
b.
Prinsip Gerontologis untuk komunikasi
1.
Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
2.
Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3.
Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik.
4.
Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
5.
Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung
dengan telinga yang dapat mendengar dengan lebih baik.
6.
Berdiri di depan klien.
7.
Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana
8.
Beri kesempatan bagi klien untuk berfikir.
9.
Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti
perkumpulan orang tua, kegiatan rohani.
10.
Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
11.
Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu
tugas atau keahlian
F. Prinsip-Prinsip Etik
Pelayanan Kesehatan Pada Lansia
Beberapa prinsip etika
yang harus dijalankan dalam pelayanan pada derita usia lanjut adalah:
1.
Empati :istilah empati menyangkut pengertian :“simpati atas
dasar pengertian yang mendalam”.Dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan
geriatric harus memandang seorang lansia yang sakit dengan pengertian,kasih
sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita
tersebut.Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar,tidak berlebihan,
sehingga tidak memberi kesan over-protective dan belas kasihan.Oleh karena itu
semua petugas geriatric harus memahami proses fisiologi dan patologik dari
penderita lansia.
2.
Yang harus dan “jangan”: prinsip ini sering dikemukakan
sebagai non-malefecience dan beneficence,pelayanan geriatric selalu didasarkan
pada keharusan untuk mengerjakan yang baik untuk penderita dan harus
menghindari tindakan yang menambah penderitaan (harm) bagi penderita. Terdapat
adagium primum non nocere (“yang terpenting jangan membuat seseorang
menderita“).Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat
untuk menghindari ras nyeri,pemberian analgesic (kalau perlu dengan devirat
morfin) yang cukup,pengucapan kata-kata hiburan merupakan contoh berbagai hal
yang mungfkin mudah dan praktis untuk dikerjakan.
3.
Otonomi :yaitu suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai
hak untuk menentukan nasibnya, dan mengemukakan keinginanya sendiri.Tentu
sekali saja hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi dibidang geriatric hal
tersebut berdasar pada keadaan,apakah penderita dapat membuat putusan secara mendiri/bebas.
4.
Keadilan : yaitu prinsip pelayanan geriatric harus memberikan
perlakuan yang sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan seorang
penderita secara wajar dan tidak mengadakan perbedaan atas dasar karakteristik
yang tidak relevan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Komunikasi adalah elemen
dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan,
mempertaankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi
dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa
komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang
kompleks yang melibatkan tingka laku dan hubungan serta memungkinkan individu
berasosiasi denan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu
merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yan maknanya dipacu
dan ditransmisikan.
Komunikasi pada lansia
tidaklah begitu sulit dibutuhkan teknik-teknik tersendiri untuk melakukan
komunikasi pada lansia banyak hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya :
1.
Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.
2.
Tehknik untuk wawancara.
3.
Kendala dan hambatan dalam komunikasi.
4.
Mood dan privasi
5. Aspek-aspek yang harus diperhatikan.
B.
Saran
Komunikasi pada lansia
baiknya dilakukan secara bertahap supaya mudah dalam pemahamannya. Lansia
merupakan kelompok yang sensitive dalam perasaannya oleh sebab itu, saat
komunikasi harus berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya.
DAFTAR
PUSTAKA
https://komunikasi.com diakses pada hari rabu 25
maret 2020, pukul 10.00
https://www.kompasiana.com/nezfine/55004df0a333115263511313/komunikasi-efektif-pada-lansia
https://mynurz.com diakses pada hari rabu 25
maret 2020, pada pukul 10.30
https://mynurz.com/blog/10-tips-sukses-komunikasi-perawat-dan-lansia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar